
JAKARTA – Sebagai wujud komitmen untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dan layanan kesehatan di Sumatera Barat, Rektor Universitas Fort de Kock (UFDK) Bukittinggi, Prof. Dr. Hj. Evi Hasnita, S. Pd, Ns, M. Kes, melakukan kunjungan kehormatan ke Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Rabu (7/1/2026). Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Rektor UFDK disambut langsung oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia, Yang Mulia Roderick Brazier. Diskusi kedua belah pihak berfokus pada upaya mempererat hubungan people-to-people antara masyarakat Sumatera Barat dengan Australia melalui jalur pendidikan dan kesehatan.
Prof. Evi Hasnita menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan langkah strategis UFDK untuk “menjemput bola” peluang kerjasama global. Hal ini juga merupakan tindak lanjut dari kunjungan muhibah delegasi UFDK ke Monash University di Australia pada pertengahan Desember 2025 lalu. Langkah ini sekaligus merekatkan kembali hubungan historis sang Duta Besar dengan Sumatera Barat, mengingat beliau memiliki rekam jejak kunjungan penting di Universitas Andalas (Unand) dan kawasan Jam Gadang Bukittinggi beberapa waktu silam.
“Kami ingin memastikan bahwa jejak baik beliau di Sumbar terus berlanjut. UFDK siap menjadi jembatan (hub) baru bagi program-program positif dari Kedutaan, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak, serta manajemen kebencanaan,” ujar Prof. Evi usai pertemuan. Selain isu kesehatan masyarakat, pertemuan ini juga menyoroti peluang emas bagi tenaga keperawatan Indonesia. Prof. Evi memaparkan bahwa Australia saat ini tengah menghadapi tantangan kekurangan tenaga perawat profesional atau Registered Nurse (RN).
“Ini adalah peluang besar yang harus kita tangkap. UFDK berkomitmen menyiapkan lulusan Ners yang tidak hanya kompeten secara medis, tetapi juga siap secara bahasa dan standar kualifikasi untuk mengisi kebutuhan tenaga kesehatan di Australia. Gaji dan kesejahteraan perawat di Australia sangat menjanjikan, namun standarnya juga tinggi, ” tegas Rektor.
“Guna menjawab peluang tersebut, Prof. Evi menjelaskan bahwa alumni Ners perlu mempersiapkan tiga tahapan kunci. Pertama, penguasaan bahasa Inggris mutlak diperlukan dengan target skor IELTS 7.0 atau OET Grade B, yang kabar baiknya kini memiliki standar penilaian Writing yang sedikit lebih fleksibel. Kedua, alumni harus lulus uji kompetensi jalur Outcome-Based Assessment (OBA) yang terdiri dari ujian teori (NCLEX-RN) dan ujian praktik klinis (OSCE). Terakhir, perawat wajib melakukan registrasi resmi ke badan regulasi kesehatan Australia (AHPRA) untuk mendapatkan lisensi kerja. UFDK sendiri berkomitmen memfasilitasi persiapan teknis ini sejak dini di kampus agar lulusan siap bersaing.
Pada kesempatan yang sama, Rektor UFDK turut menyampaikan undangan khusus kepada Bapak Roderick Brazier untuk berkunjung ke Ranah Minang. Duta Besar diharapkan dapat hadir untuk memberikan kuliah umum, sekaligus melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) gedung perkuliahan baru UFDK yang akan jadi pusat kolaborasi (Center of Excellence) dalam kegiatan akademik berstandar internasional.
Alhamdulillah, respon beliau sangat positif dan menyatakan kesediaan untuk datang pada kesempatan yang baik nantinya. Besar harapan kami, kolaborasi ini tidak hanya memajukan kampus, tetapi juga membuka jalan karir global bagi putra-putri terbaik Sumatera Barat,” tutup Prof. Evi.




