Sejarah dan Perkembangan
Universitas Fort De Kock
Jejak perjalanan Universitas Fort De Kock sebagai bagian dari tradisi pendidikan Kota Bukittinggi, dari gagasan awal hingga berkembang menjadi universitas multidisiplin.
Sejarah Singkat Bukittinggi dan Asal Usul Nama "Fort De Kock"
Bukittinggi adalah kota yang sangat penting dalam sejarah Indonesia mulai dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga menjadi pusat pemerintahan darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1948-1949.
Pada tahun 1825, Belanda membangun sebuah benteng pertahanan yang diberi nama Fort De Kock. Benteng ini menjadi ikon sejarah kota dan simbol penting peran Bukittinggi sebagai pusat pemerintahan, pertahanan, dan pendidikan.
Julukan Kota Pendidikan juga melekat karena sejak zaman kolonial, daerah ini menjadi pusat lahirnya sekolah-sekolah penting seperti Sekolah Raja, Mosvia, Kweek School, dan bahkan cikal bakal Fakultas Kedokteran pertama.
Universitas Fort De Kock mengambil nama ini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan sejarah kota, sekaligus menjadi simbol keberlanjutan tradisi pendidikan yang telah berlangsung ratusan tahun di Bukittinggi.Dan Universitas Fort De Kock adalah wujud dari "Benteng Pendidikan"
Gagasan Awal & Rekomendasi
Dalam rangka melestarikan marwah Bukittinggi sebagai Kota Pendidikan, gagasan diprakarsai oleh Drs. Zainal Abidin dan dr. Abdul Rival, M.Kes beserta kawan-kawan yang merupakan praktisi bidang kesehatan di Sumatera Barat. Serta adanya dukungan dari Pemerintah Kota Bukittinggi (Walikota Drs. H. Djufri) yang merespon positif dan merekomendasikan nama Fort De Kock yang merupakan benteng peninggalan Belanda di kota Bukittinggi dengan harapan STIKes Fort De Kock dapat menjadi benteng pendidikan di Indonesia.
Pendirian & Pengembangan Prodi
Pada awal pendirian, STIKes Fort De Kock memiliki dua program studi, yaitu Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Sarjana Ilmu Keperawatan. Pada tahun 2008, STIKes menambah Program Studi D3 Kebidanan, kemudian dilanjutkan dengan D3 Fisioterapi pada tahun 2010 melalui program alih kelola. Hingga tahun 2018, STIKes Fort De Kock telah memiliki sembilan program studi: Magister Kesehatan Masyarakat, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Sarjana Keperawatan, Profesi Ners, Sarjana Kebidanan, Profesi Bidan, Sarjana Farmasi, Diploma III Fisioterapi, dan Diploma III Kebidanan.
Pembelian Tanah & Pembangunan Kampus
Yayasan Fort De Kock membeli sebidang tanah di Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi, tepatnya di Kelurahan Manggis Ganting (Bukit Batarah) pada tahun 2005. Proses pembangunan dilaksanakan pada tahun 2011 hingga 2013, sehingga berdirilah sebuah kampus yang megah dan representatif sebagai sarana pendidikan yang berlokasi di pusat Kota Bukittinggi. Kampus milik sendiri ini dilengkapi dengan fasilitas pembelajaran yang modern, nyaman, lengkap, dan memadai, serta menjadi salah satu ikon Kota Bukittinggi sebagai kota pendidikan.
Perubahan Bentuk Menjadi Universitas
Pada bulan April 2019, STIKes Fort De Kock mengusulkan perubahan bentuk menjadi universitas kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dengan penambahan program studi baru nonkesehatan, yaitu Program Studi S1 Bisnis Digital dan Program Studi S1 Kewirausahaan. Pada bulan Agustus 2019, terbit izin perubahan bentuk STIKes Fort De Kock menjadi universitas berdasarkan Surat Keputusan 786/KPT/I/2019.
Daftar Isi Timeline
Program Studi Universitas Fort De Kock
Fakultas
Fakultas Ilmu Kesehatan
Program Studi
Kesehatan MasyarakatStatus
Aktif
Tahun
2022
Lembaga akreditasi: LAM-PTKes
Fakultas